Assalamualaikum Wr. Wb.

Sebuah opini dariku yang mungkin dapat diambil hikmahnya.

Menulis. Banyak orang diluar sana yg memiliki hobi menulis, sama seperti saya. Mereka tangguh, tetap semangat, dan membuahkan hasil karya yang sangat luar biasa. Tetapi mengapa sekarang aku terhenti, disaat melihat orang lain sukses dengan menulis?

Melihat orang lain berkarya, penulis penulis hebat dengan buku nya, seharusnya aku termotivasi pada mereka semua. Tapi entah rasanya, aku ingin menutup lembaran hobiku.

Perjalanan hobi ku menulis sudah sejak sd kelas 3, dimana aku senang menulis cerpen, dan sebuah novel konyol yg tidak aku kirimkan ke penerbit (karena ceritanya sangat tidak rasional). Aku selalu menimbun segala karya karyaku, sehingga saat melihat orang lain membuahkan prestasi dengan cerita fiksi konyolnya juga, aku merasa sakit hati sendiri. Mengapa aku tidak melakukan itu juga?

Semakin bertambah umurku, karyaku semakin ku kumpulkan. Mulai dari cerpen fiksi, cerpen konyol, cerpen ff tokoh idola, cerpen muslim, cerpen hantu, dll. Beberapa aku terbitkan di blog dan wattpad, tapi tidak semua. Beberapa ku hapus foldernya disaat aku marah sendiri karna keluarga tidak mensupportku.

Namun sekarang terhenti. Apakah aku harus berhenti menulis? Setelah aku memenangkan juara lomba cerpen se-sekolah? Setelah aku banyak mengirimkan karyaku ke lomba lomba?
Aku harus berhenti?



Menulis adalah waktu yang paling indah bagiku. Segala isi hatiku keluar begitu saja. Aku adalah tipe orang yg suka menulis saat ada suasana yg mendukung. "Kita juga sama ko div, kalo lagi ada kejadian baru bisa nulis" ujar teman SAGEZAku (kelompok penulis di rohis ku). Mereka bilang bahwa menulis memang susah di biasa kan. Ujar penulis penulis buku juga demikian. Diawali dengan keterpaksaan untuk menulis, kemudian bisa karna terbiasa.

Namun semua ini terhenti begitu saja. Karna cowo? Keluarga? Teman? Mereka tidak mensupport? Banyaknya saingan? BIG NO. Aku selalu berpikir akhir akhir ini, 'apa aku harus berhenti menulis?' . padahal suasana hati sedang tenang dan tentram tanpa amarah. Sebuah opini itu terus lewat di pikiranku setiap saat.


Padahal aku memiliki mimpi bisa menulis sebuah tulisan yg berguna, kemudian aku kirim ke penerbit koran/majalah/buku, sehingga aku mempunyai pendapatan sendiri tanpa menyusahkan bunda yg selalu bekerja keras sendiri. Semoga bunda disayang allah #sepertifilm.



Keputusasaan,
Odivaazzahra


Was sama mu alaikum Wr. Wb.